Saat umur saya hampir beranjak pada angka 18. Saya meninggalkan rumah, teman- teman, hiruk pikuk ibu kota. Saya diterima kuliah di UGM. Eits tunggu dulu jangan senang dulu saya di terima memang di Fakultas bergengsi dengan nama besar FISIPOL, tetapi dimana jurusan saya? saya diterima dijurusan Sosiatri. "Apa itu Sosiatri? Sosiologi? atau Psikiatri?" banyak sekali orang yang bertanya kepada saya untuk penjelasan jurusan saya tersebut. Sedih rasanya tidak sebegitu familiarnya jurusan perkuliahan saya sampai- sampai kening mereka yang bertanya berkerut. Sosiatri adalah ilmu yang dibuat oleh UGM sendiri, iya Ilmu cipta karya bangsa sendiri. Sebenarnya ini sangat membanggakan bila pemikiran kita tidak kebarat- baratan. Memang akar dari semua Ilmu adalah Filsafat, dan pemikiran- pemikirannya sangat tua dan jauh sejauh Aristoteles tinggal. Banyak situasi yang akhirnya membuat saya menunduk dan mengkerdilkan diri karena disepelekan dengan jurusan ini. Saya pun tidak cukup cerdas untuk menjawab pertanyaan- pertanyaan orang yang menanyakan tentang jurusan saya.
Saya mempunyai alasan pribadi cukup yang cukup kuat mengapa saya memilih untuk berkuliah disini dengan konsekuensi yang baru saya ketahui setelah semuanya berlangsung. Selama 4 Tahun kuliah baru saat menjelang skripsi lah saya mengerti dan enjoy dengan perkuliahan saya. Betapa lamanya penyesuaian diri saya terhadap hal baru.Pada fase perkuliahan ini adalah kali pertama saya untuk menerima tantangan perkulihan yaitu bagaimana saya bisa survive mempertahankan mood saya belajar, memulai pertemanan dengan kultur yang beraneka ragam, bersosialisasi luas berlipat ganda dari sosialisasi sekolah dahulu, fase remaja menuju kedewasaan, dan hidup di kota orang sendiri.
You should be consistent with all of the challenges that!
Akhirnya perlahan saya buang penyesalan- penyesalan yang menggantung disekitar kepala saya. Saya buka jendela dari balik kelopak mata saya bahwa : "lo musti jadi dang". Singkirkan semua kata- kata "kalau saja, andai saja, coba dulu guee.." Dengan begitu saya baru mengerti artinya rasa bersyukur dengan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup saya.
Banyak hal yang saya baru syukuri sekarang karena dahulu saya tidak pernah memikirkannya, mungkin simple tetapi saya rasa kalau saya tidak kuliah di UGM dan tinggal di Jogja saya tidak akan punya kesempatan seperti ini :
1. Volunteer JAFF sebuah festival film bertaraf internasional yang diselenggarakan di jogja
2. Punya teman dengan berlatarbelakang suku- suku di Indonesia
3. Traveling wisata yang ada di Jogja, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, sampai NTT.
4. Penelitian di pelosok desa bisa life in bersama keluarga baru di suatu desa yang masih tertinggal
5. Relawan Erupsi merapi saya bisa menghibur adik- adik kecil atau sekedar membacakan koran para lansia agar hatinya senang.
Terlalu panjang jika saya jelaskan satu persatu the little things to great things that i ever could during college in Jogja.
Walaupun saya sedih saya kecewa saya merasa kurang oke dengan segala yang saya dapat tetapi saya berusaha untuk merubah pemikiran tersebut dan mulai mensyukurinya. Saya lakukan apapun dengan maksud dan tindakan yang baik. Saya yakin karena itulah maka alam ini membalasnya.