Hal ini disebabkan oleh kebiasaan anggota rumah yang lebih sering menggunakan bahasa Indonesia untuk bahasa sehari- hari. Saya secara garis besar adalah warga Jakarta, hidup, bersosialisasi, makan, main, dan belajar selama 17 tahun di kota terpadat tersebut. Saya nyaris tidak terbiasa dengan bahasa dan budaya lainnya.
Umur 18 tahun saya pindah ke Yogyakarta untuk kuliah. Yogyakarta adalah kota dimana budaya dan bahasanya lembut dan santun. Kota ini bisa dibilang "Indonesia kecil" mengapa begitu, karena hampir semua suku Indonesia ada di Yogyakarta. Ini disebabkan Kota Yogya sudah terkenal kualitas pendidikannya diseluruh Indonesia bahkan di negara tetangga. Akhirnya banyak yang bersekolah jauh- jauh dari daerah lain kesini, seperti saya pun juga termasuk didalamnya. Hal ini mengakibatkan mata saya terbuka lebar mengenal kebudayaan teman- teman saya yang berbeda suku.
Awal tahun saya di Jogja, saya sangat anti mencoba berkomunikasi bahasa Jawa,
saya merasa bahasa Jawa untuk melafalkannya saja perlu gesture yang sangat amat berbeda dengan bahasa Indonesia. “Medok”
istilahnya, itu sulit sekali!! jujur saya memang malu untuk berbahasa Jawa, bukan
malu karena medok atau karena itu bahasa daerah, tetapi saya malu kalau melafalkannya
salah dan “gak masuk” apalagi lawan bicara saya asli orang Yogya, dan menurut
saya waktu itu kalau saya memakai bahasa Jawa saya seperti labil dan “ikut-
ikut” “sok-sok an” dan terkesan sok akrab.. hehe kebiasaan
saya berprasangka buruk.
Beberapa teman dekat saya sekelas sangat toleransi dengan ketidakbisaan dan ketidakmauan saya untuk berkomunikasi dengan bahasa jawa seperti mereka, tetapi sayangnya antara teman saya yang lain (yang bukan teman dekat) saya menjadi mempunyai jarak. Teman-teman saya tidak mau menerima saya dan saya pun tidak mau membaur untuk masalah bahasa ini.
2012 ini adalah tahun dimana saya menjajaki semester akhir di perkuliahan, dan saya pun masih belum memakai bahasa Jawa dalam setiap percakapan saya, ya mungkin hanya sesekali dan beberapa kata saja yang suka saya ucapkan (Good job!). Peningkatannya saya sudah bisa mengerti kalau orang berbicara menggunakan bahasa Jawa tetapi saya masih belum bisa bercas-cis-cus ria menggunakan bahasa Jawa.
Beberapa teman dekat saya sekelas sangat toleransi dengan ketidakbisaan dan ketidakmauan saya untuk berkomunikasi dengan bahasa jawa seperti mereka, tetapi sayangnya antara teman saya yang lain (yang bukan teman dekat) saya menjadi mempunyai jarak. Teman-teman saya tidak mau menerima saya dan saya pun tidak mau membaur untuk masalah bahasa ini.
2012 ini adalah tahun dimana saya menjajaki semester akhir di perkuliahan, dan saya pun masih belum memakai bahasa Jawa dalam setiap percakapan saya, ya mungkin hanya sesekali dan beberapa kata saja yang suka saya ucapkan (Good job!). Peningkatannya saya sudah bisa mengerti kalau orang berbicara menggunakan bahasa Jawa tetapi saya masih belum bisa bercas-cis-cus ria menggunakan bahasa Jawa.
Saya iseng berbincang dengan beberapa
teman yang berasal dari Jakarta juga, mereka dulu pernah berpendapat atau sekedar
mengejek bahasa Jawa yang medok, tetapi dengan seiringnya waktu dan karena
tuntutan peran pendatang, kami terbiasa dan menganggap wajar bahasa Jawa dengan
segala lafalnya. Setelah itu saya pun juga berbincang dengan para teman asli Yogya, ternyata mereka mengeluh ketidaksukaannya dengan logat orang Jakarta yang cenderung kasar dan
terdengar sombong.
Lalu hal ini akhirnya saya observasi, saya sering berusaha menguping untuk merasakan menjadi dua sisi suku tersebut, walaupun saya termasuk kedalam salah satu suku tersebut. Saya meresapi dalam-dalam percakapan seseorang yang menggunakan bahasa Jawa dengan prespektif sebagai orang Jakarta, dan hal ini saya akui sangat sulit, dan saya tersadar bahwa saya ternyata telah melebur dan terbiasa, dan jika disuruh berfikir subyektif dan “asal ceplos” saya punya pendapat tentang bahasa jawa (tidak termasuk bahasa kromo ya dalam konteks ini adalah bahasa sehari- hari) bahasa Jawa ataupun bahasa manapun memang sebenarnya tergantung siapa yang berbicara.
Bahasa Jawa sehari- hari saya pikir memang lebih halus dibandingkan dengan bahasa Indonesia yang dipakai di Jakarta, tetapi.... Bahasa Jawa lah yang paling bisa melukai hati seseorang, hehe saya pernah lho merasa sakit hati mendengar seseorang berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa yang walau diartikan dengan bahasa Indonesia dan dilafalkan oleh orang Jakarta mungkin saya tidak akan tersinggung atau sakit hati tapi entah mengapa gesture beberapa orang dan menggunakan bahasa Jawa tersebut mampu melukai perasaan.
Lain lagi saat saya berusaha mendengarkan percakapan orang yang saya tidak kenal, tetapi saya dapat memastikan bahwa orang- orang tersebut pasti dari kecil berdomisili di Jakarta juga, saya perhatikan dan dengarkan baik- baik percakapan mereka, dan tidak sampai 1 menit saya pun sadar, bahwa memang kurang nyaman di telinga, saya menyadarinya dan saya akhirnya tau mengapa teman- teman saya selalu mempunyai jarak dengan saya. Logat, gesture, cara berbahasa, first immpression, semua hal itulah jawabannya.
Lalu hal ini akhirnya saya observasi, saya sering berusaha menguping untuk merasakan menjadi dua sisi suku tersebut, walaupun saya termasuk kedalam salah satu suku tersebut. Saya meresapi dalam-dalam percakapan seseorang yang menggunakan bahasa Jawa dengan prespektif sebagai orang Jakarta, dan hal ini saya akui sangat sulit, dan saya tersadar bahwa saya ternyata telah melebur dan terbiasa, dan jika disuruh berfikir subyektif dan “asal ceplos” saya punya pendapat tentang bahasa jawa (tidak termasuk bahasa kromo ya dalam konteks ini adalah bahasa sehari- hari) bahasa Jawa ataupun bahasa manapun memang sebenarnya tergantung siapa yang berbicara.
Bahasa Jawa sehari- hari saya pikir memang lebih halus dibandingkan dengan bahasa Indonesia yang dipakai di Jakarta, tetapi.... Bahasa Jawa lah yang paling bisa melukai hati seseorang, hehe saya pernah lho merasa sakit hati mendengar seseorang berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa yang walau diartikan dengan bahasa Indonesia dan dilafalkan oleh orang Jakarta mungkin saya tidak akan tersinggung atau sakit hati tapi entah mengapa gesture beberapa orang dan menggunakan bahasa Jawa tersebut mampu melukai perasaan.
Lain lagi saat saya berusaha mendengarkan percakapan orang yang saya tidak kenal, tetapi saya dapat memastikan bahwa orang- orang tersebut pasti dari kecil berdomisili di Jakarta juga, saya perhatikan dan dengarkan baik- baik percakapan mereka, dan tidak sampai 1 menit saya pun sadar, bahwa memang kurang nyaman di telinga, saya menyadarinya dan saya akhirnya tau mengapa teman- teman saya selalu mempunyai jarak dengan saya. Logat, gesture, cara berbahasa, first immpression, semua hal itulah jawabannya.
Kacamata kuda adalah cara berfikir kebanyakan dari kita, termasuk saya. Kita
tidak mau berbaur, tidak mau menerima,
serta menilai seseorang hanya dari luarnya saja. Inilah yang menyekat-nyekatkan kita walau kita sudah tidak lagi dijajah sama Belanda. Menurut saya
perbedaan antar suku harus menghilangkan hal tersebut. Kita harus
menerima budaya daerah lain maupun kita hanya pendatang maupun si tuan rumah.
Seperti kota Yogya yang sudah bernasib dikepung mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, para tuan rumah pun harus membuka diri dan menganggap hal biasa dan normal dengan perbedaan budaya tersebut. Bagi pendatang, jika belum bisa berbaur dengan ikut dan memakai bahasa Jawa, sangat disarankan untuk terbiasa pula dengan budaya dimana mereka singgah tersebut, tetap menghormati dan terus mencoba berbaur. Menurut saya jika kedua belah pihak ini saling mengerti, mau mengalah dan belajar saya yakin tidak ada gap antar suku lagi baik di pulau Jawa , Sumatra, Kalimantan, Papua, dan lain- lain. Karena suatu keberhasilan sosial tidak bisa dijalankan oleh satu sisi J
Seperti kota Yogya yang sudah bernasib dikepung mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, para tuan rumah pun harus membuka diri dan menganggap hal biasa dan normal dengan perbedaan budaya tersebut. Bagi pendatang, jika belum bisa berbaur dengan ikut dan memakai bahasa Jawa, sangat disarankan untuk terbiasa pula dengan budaya dimana mereka singgah tersebut, tetap menghormati dan terus mencoba berbaur. Menurut saya jika kedua belah pihak ini saling mengerti, mau mengalah dan belajar saya yakin tidak ada gap antar suku lagi baik di pulau Jawa , Sumatra, Kalimantan, Papua, dan lain- lain. Karena suatu keberhasilan sosial tidak bisa dijalankan oleh satu sisi J